
Banjarmasin – Pada 19 Mei 2026, Ilmu Komunikasi Universitas Lambung Mangkurat (ULM) menyelenggarakan agenda nonton bareng (nobar) film dokumenter “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita” di gedung perkuliahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) ULM Banjarmasin.
Ruang 1 Gedung Lama FISIP ULM diipenuhi antusiasme mahasiswa ilmu komunikasi yang menyaksikan film dokumenter investigatif yang digarap melalui kolaborasi antara Dandhy Dwi Laksono yang sebelumnya juga menyutradarai Sexy Killers dan Dirty Vote, dan Cypri Paju Dale, seorang antropolog yang aktif meneliti isu Papua. Beberapa lembaga yang turut berkolaborasi dalam film berdurasi 95 menit ini antaranya adalah Watchdoc, Ekspedisi Indonesia Baru, Yayasan Bentala Pustaka, Jubi.id, Greenpeace indonesia, dan LBH Papua.
Acara ini dilaksanakan bertepatan dengan berlangsungnya mata kuliah Komunikasi Lingkungan dan Kearifan Lokal Pada Lahan Basah dan mata kuliah Teori Film, bertujuan untuk membantu mahasiswa melihat dari sisi isu lingkungan yang biasanya hanya sebatas teori yang dibahas di kelas serta melihat realitas isu lingkungan dari perspektif sinematografi.
“Jujur aku sangat menghargai dan mengapresiasi jurusan kita, apalagi ini dilaksanakan di jam matkul yang kita sendiri juga ada tugas, terus dosen juga pasti punya keperluan masing-masing. Di mana kita nonton, tontonan yang sangat penting apalagi untuk mahasiswa, khususnya anak-anak Ikom,” tutur Zata Lini setelah menonton film Pesta Babi.
Sepakat dengan penuturan Zata, Raisa menambahkan, “Di tengah banyaknya pembubaran penyelenggaraan nobar ini, jurusan ilmu komunikasi justru berani secara terang-terangan untuk disaksikan banyak orang, dan khususnya banyak angkatan 2023, ya,” tambahnya.
Dua mahasiswi Ilmu Komunikasi angkatan 2023 tersebut juga menyoroti isu perjuangan perempuan yang termuat dalam film. Momen-momen tokoh perempuan yang mengungkapkan ketakutannya akan dan hak-haknya, serta perjuangan masyarakat Papua yang harus pergi ke Ibukota untuk menyuarakan aspirasi mereka yang terbingkai dalam film dokumenter ini, menyentuh secara emosional.

Selain menonton bersama, beberapa dosen jurusan Ilmu Komunikasi juga membuka sesi diskusi untuk berbagi pengalaman dan sudut pandang mengenai isu lingkungan hidup yang krusial bagi generasi saat ini.
Astinana Yuliarti, S.S., M.I.Kom selaku dosen dan penyelenggara acara nobar menyampaikan bahwa antusiasme nobar tidak hanya datang dari mahasiswa, bahkan dari para alumni yang tertarik untuk menonton film Pesta Babi yang memang terbatas penayangannya.
“Harapannya mahasiswa bisa lebih kritis. Bahwa melalui film ini mahasiswa tahu bahwa ada hal yang tidak baik-baik saja di masyarakat Indonesia. Bahwa mereka (Papua) juga bagian dari masyarakat Indonesia, tapi mereka tidak merasakan apa yang seperti kita rasakan di Kalimantan, yang juga bagian dari Indonesia.” Ungkapnya saat ditanyai perihal harapan dari generasi muda pasca nobar film Pesta Babi. Melalui film ini, ia menekankan pentingnya mahasiswa memposisikan diri di masa depan, baik sebagai korban maupun pelaku, sebagai pemantik agar mereka mampu berpikir lebih kritis.
Salah satu peserta nobar yaitu, Muhammad Fadel Fahlevi yang juga Pimpinan Umum dari UKM LPM-Intro turut menyampaikan komentarnya. Fadel merasa jurusan Ilmu Komunikasi memperlihatkan langkah progresif. Hal ini juga membuat Fadel lebih termotivasi untuk mengangkat isu-isu lingkungan di Kalimantan, yang menurutnya sering terabaikan dibanding daerah lain.
Fadel mengungkapkan harapannya untuk generasi sekarang, “Generasi muda itu punya peranan masing-masing, jangan pernah mengecilkan peran masing-masing. Jadi lakukan yang terbaik, dan tetap jaga moral kompas.”
Penyelenggaraan kegiatan ini menjadi langkah yang diharapkan mampu menjembatani kesenjangan informasi di tengah masyarakat terkait isu penting ini. Dengan menyajikan data dan fakta yang jelas, forum ini setidaknya dapat membuka ruang literasi yang lebih luas, sehingga masyarakat terutama mahasiswa tidak lagi bersikap apatis dan mampu menyikapi urgensi dari isu tersebut dengan lebih bijak di masa depan.