Tips dan Trik Videografi a la Upie Guava

Videog

 

Setiap karya komunikasi pasti menimbulkan persepsi. Film adalah bentuk media komunikasi yang paling dapat membuat seseorang menangis. Argumen tersebut terlontar dari Upie Guava, seorang videografer papan atas nasional yang diundang oleh Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (Himakom) ULM, Minggu (10/10/2018). Workshop videografi yang diselenggarakan di Bangi Cafe untuk menyemarakkan kegiatan Commweek.

Upie dipercaya oleh grup band dan artis ternama sekaliber D’masiv, Rossa, Nidji, Marcell Siahaan, slank, Ungu, Afgan, Vidi Aldiano, dan Letto. Ia pernah memenangi ANTV KLIK AWARD, SCTV INBOX AWARD dan sutradara terdahsyat Dahsyat award RCTI. Kesempatan langka tersebut dimanfaatkan oleh mahasiswa-mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi untuk menyerap ilmu-ilmu videografi dari ahlinya.

Memulai pembahasannya, Upie mencontohkan bagaimana musisi legendaris Michael Jackson, The Beatles, dan Elvis Presley dapat muncul di benak para penggemar musik. Saat ketiga figur musik tersebut dikenal masyarakat, sebenarnya pada periode tersebut juga banyak musisi lain yang juga menghasilkan lagu yang berkualitas. Namun, ketiganya berhasil menghasilkan video klip yang bermakna, bukan sekedar musik, yang membuat mereka dikenal di belantika musik dunia hingga sekarang.

Dalam berkarya, Upie menekankan pentingnya memahami apa yang menjadi tujuan dari karya kita. “Yang penting kita tahu ujungnya apa dulu,” ujarnya. Jadi, untuk membuat video, kita tidak boleh tanpa perencanaan.

Form Follow Function

Setidaknya ada enam langkah dalam membuat video yang bagus. Langkah pertama adalah memahami konsep “form follow function”. Kita perlu merumuskan apa fungsi dari video kita, bentuk akan mengikutinya. Aspek fungsi dijelaskan oleh Upie mempertimbangkan tujuan, tempat, kebutuhan, siapa, dan strategi. Aspek bentuk mempertimbangkan mood, perasaan, tekstur, estetika, dan yang paling penting adalah penyelesaian masalah (problem solving).

Upie mencontohkan, video klip Raisa dan Kunto Aji memiliki bentuk yang berbeda. Video klip untuk keduanya membutuhkan bentuk yang berbeda. Sebagai contoh, untuk lagu tentang dua insan yang putus cinta, penggambaran video klipnya cenderung mengarah ke gambaran nyata cowok dan cewek yang berkonflik. Sebaliknya, video klip untuk Kunto Aji hanya menampilkan kiasan, semisal gambaran ‘close up’ tetesan air mata atau surat cinta terbakar. Bentuk menyeusaikan fungsi, kedua musisi memiliki fans dengan selera berbeda.

Upie juga mencontohkan untuk video pre-wedding. Upie sempat bertanya kepada para peserta mengenai apa tujuan dari foto pre-wedding. “Video pre-wed intinya untuk pamer”, ujarnya. Jadi, videografer harus memahami apa yang diinginkan oleh klien, meskipun tanpa klien menjelaskan. Videografer harus memaksimalkan tampilan klien dalam video, sekaligus menutupi kekurangan-kekurangan yang ada pada klien.  Bentuk menyeusaikan fungsi.

Reverse Engineering dan Vitamin

Dalam membuat video, kita memerlukan inspirasi dari orang lain.  Langkah kedua adalah reverse engineering, yang dapat diartikan sebagai proses mengumpulkan video berkualitas dan mencaritahu bagaimana cara-cara membuatnya. Kita perlu mencari elemen-elemen dalam video tersebut, layaknya menyusun rangkaian puzzle. Meskipun memerlukan inspirasi dari orang lain, kita tidak seharusnya mencari di saat ada proyek.

Kita mencari video berkualitas dan mempelajari apa tujuan akhir (finish) dari video tersebut. Video yang bertujuan akhir membuat seseorang untuk bertobat, jelas berbeda jika dibandingkan dengan video yang bertujuan membuat seseorang tersenyum. Tujuan lain dapat berupa viral, bawa perasaan (baper) , berpikir, bangga, maupun promosi. Ketika sudah menyadari tujuan dari video orang lain, maka kita membalik ke awal mula (start), bagaimana cara membuat mereka.

Langkah ketiga adalah vitamin. Kita harus menonton video-video yang bagus. “Menonton video-video lucu di media sosial, 9gag, sinetron, dan lain-lain akan mendegradasi selerta kita, taste, referensi, chef tidak memakan makanan yang merusak lidahnya” ujarnya. Sebagai videografer, kita cenderung meniru apa yang kita lihat.

Kepada para mahasiswa komunikasi, Upie menantang untuk berhenti menonton video-video berkualitas rendah sebulan. Setelah sebulan ‘berpuasa’, mahasiswa diminta mengambil kamera untuk membuat video. “Pasti hasilnya berbeda,” lanjutnya.  Setiap orang memiliki frame dalam melihat sesuatu, dan hal tersebut sudah terbangun sejak kecil. Selain menantang untuk meningkatkan selera tontonan video, Upie juga mengharapkan kreatifitas yang lebih dalam mengangkat kearifan lokal. “Apa gaya vintage di Banjarmasin yang bisa di-recycle?”

Proses dan Eksplorasi

Langkah keempat adalah “put as many actions as you can”. Langkah ini yaitu mengumpulkan berbagai aksi sebanyak mungkin. Membuat film layaknya membuat kerajian tangan. Dalam membuat frame , kita memerlukan pemahaman gimmick atau dapat diartikan sebagai tipu muslihat. Didorong oleh imajinasi, seorang videografer harus sensitif dengan bunyi-bunyian dan pengambilan gambar yang berbeda.

Langkah kelima adalah “respect the process”. Kita perlu menghargai proses, ide yang bagus memerlukan proses agar menjadi video yang berkualitas. Kita perlu menyusun storyboard dari coret-coretan pena. Selanjutnya, coretan tersebut diubah secara digital dengan memasukkan gambar-gambar ‘stock photo’ yang dapat diambil dari internet. Visualisasi ide ini disusul dengan latihan kameraman dan talent-talent yang berperan dalam video nantinya. Setelah melalui proses latihan, videografer baru menyempurnakan dan menjadikan videonya.

Langkah terakhir adalah ‘explore your canvas’. Kita hidup di dunia tanpa memiliki batas (limitasi). Videografer dapat memilih ribuan alur cerita, aktor/aktris, ekpsresi, dan elemen-elemen lain. Namun, dari semua elemen, videografer hanya dapat memilih salah satu.  Oleh karena itu, videografer perlu memilih sesuai tujuan dari video yang ia kerjakan.

Leave us a Comment